Senin, 22 Februari 2016

Surat Terakhir

Surat Terakhir




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 29 July 2013

“dian” sapaku kepadanya saat aku melihat dia berlari-lari dari depan pintu perpustakaan, ia menoleh ke arahku namun tak menghiraukanku dan terlihat airmata telah keluar dari mata indahnya itu. kenapa dia? ah sudahlah tak terlalu kufikirkan. aku hanya berfikir dia mempunyai sedikit masalah
pagi ini, tidak ada terlihat tanda tanda rio hadir di sekolah ini, “Hey, apa kau melihat rio?” tanyaku pada sinta teman sekelas rio. “Tidak, aku sama sekali tidak mengetahuinya. sudah seminggu ini dia tidak datang”, setelah sinta menjawab pertanyaanku aku pergi meninggalkannya dengan ucapan “terimakasih”
rio dan dian adalah sahabat karibku dari kecil, aku menyayangi rio namun rio memberikan rasa itu ke dian
sedikit kecewa namun aku tak ambil pusing, karena rio sama sekali belum mengetahui rasaku ini
sudah seminggu ini aku tidak mendapat kabar darinya, hanya saja seminggu yang lalu terakhir aku melihatnya berjalan dan mungkin ia akan segera pulang ke rumahnya, namun setelah itu, aku tidak mengetahui kabarnya lagi. Dian pun mencoba menjauhiku seminggu ini, entahlah aku tidak mengerti ada apa dengan minggu ini!
kembali ke cerita
aku telah bertanya hampir ke semua siswa/siswi sekelas rio, namun tidak ada yang mengetahuinya. hanya ada satu sumber yang belum kutanya, dia adalah “DIAN” atau lebih lengkapnya lagi “Dian Purnama Sari”. dia seorang murid kelas XII IPA, ya dia kekasih rio sekaligus sahabat ku itu.
dimana wanita itu? batinku dari tadi bertanya tanya sembari mengelilingi sekolah yang cukup luas itu. Namun ketika di taman sekolah aku melihat seorang wanita cantik dengan rambut terurai sedang menangis, ya itu dian. ada apa dengannya? perlahan kudekati wanita cantik itu dan aku menyentuh bahunya. Mungkin itu mengagetkannya
dian sepertinya sedikit terganggu dengan kedatanganku, dia buruburu menghapus airmatanya dan menyimpan sebuah kertas yang dari tadi ia pegang ke dalam kantongnya. aku hanya bingung melihat tingkah anehnya itu
“ada apa?” tanya dian kepadaku masih dengan suara yang serak
“hah, maaf aku mengganggumu. aku hanya ingin bertanya dimana rio? aku hanya ingin menagih janjinya 2 minggu yang lalu saja”
“janji? janji apa itu? aku boleh mengetahuinya?”
“tentu, dia hanya berjanji menemaniku ke pesta ulang tahun temanku nanti malam. hanya itu dan tidak lebih” ucapku dengan semangat
“oh ya,aku telah mengetahui itu sebelumnya” ucapnya dengan ekspresi datar
“dian, dimana rio? apa kau marah karena aku mengajaknya pergi malam nanti? dia itu sahabatku” tanyaku dengan penuh rasa bingung namun dian hanya menatap kosong ke arah kolam kecil kemudian pergi berlalu meninggalkanku
entahlah, aku belum mengerti dengan apa yang terjadi hari ini. dimana pria itu? dia tidak menghubungiku lebih dari seminggu. dan kenapa wanita itu? seolah olah ada sebuah misteri dibalik hubungan mereka ini.
hasrat ingin tahuku menjadi semakin dalam namun aku lebih memilih tidak terlalu ikut campur karena aku takut dikatakan sebagai “PHO” apalagi dia sahabatku, batinku sambil berjalan menuju rumah
“aku pulang..” ucapku sembari membuka pintu yang tidak terkunci itu namun tidak ada jawaban dari dalam. ya, memang seperti ini keadaanku di rumah ini. aku lebih sering sendiri di rumah karena ibuku terlalu sibuk bekerja sedangkan ayahku sudah tiada 5 tahun lalu.
kuhempaskan badanku ke kasur ternyaman menurutku, aku berniat tidur siang untuk sejenak melepas kepenatan dan pikiran ku tentang rio sahabatku itu.
setelah kurang lebih 2 jam aku pun bangun dari tidur cantikku siang ini, aku kemudian membuka handphone ku dan terlihat ada 2 pesan misterius di dalam hapeku yang dikirim kurang lebih 1 jam yang lalu
14:01
* aku menunggumu di taman komplek dekat rumahmu
14:34
* aku menunggumu di taman komplek jam 16:00 nanti. aku harap kau datang, jangan tanya aku siapa!
huft, sms yang aneh. apa aku harus datang menemui pengirim sms ini? namun aku takut dia bukanlah orang baik. tapi aku sangat penasaran dengan ini semua, apa ini ada hubungannya dengan rio? ah entahlah, namun hasrat dalam hatiku untuk menemui orang misterius ini menggebu dan aku putuskan aku datang menemuinya
aku segera bersiap untuk menemui orang itu dan aku melupakan pesta ulang tahun temanku itu, tepat pukul 16:00 aku berada di taman itu, aku mencoba mencari orang yang mengirimkan sms misterius itu namun hasilnya NIHIL.. tidak terlihat ada satu manusiapun di taman ini.
tiba tiba seorang manusia menepuk pundakku dari belakang dan itu cukup membuatku kaget, aku menoleh dan ternyata orang itu adalah dian.
“dian? jadi kamu yang ngirim sms itu?” ucapku dengan wajah penuh tanya dan dia hanya mengangguk
“ayo ikut aku” dia menarikku dengan keras dan membawaku ke sebuah tempat kumuh yang lebih layak dikatakan sebagai gudang
“kenapa kau membawaku kemari?” ucapku masih dengan penuh keheranan
“ada yang ingin kubicarakan, ayo duduklah disini” ucapnya sembari memberiku tempat di sampingnya untuk duduk
“kau sudah tau tentang rio?” ucapnya dan ucapan itu mengagetkanku, ternyata ini ada hubungannya dengan rio
“tidak, aku sama sekali tidak mengetahuinya, aku ingin kau memberitahuku jika kau mengetahui keberadaannya. aku merindukannya, sudah seminggu aku tidak melihatnya” ucapku panjang lebar dan tiba tiba tangan dian merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas.
“kertas itu…” ucapku seakan mengetahui kertas itu namun dian memotong pembicaraanku “ya, kertas ini. kertas yang kubaca di taman tadi siang” ucapnya seakan mengetahui apa yang ada di fikiranku
“lalu apa hubungannya rio dengan kertas ini? dan dimana rio sekarang?” tanyaku sedikit mendesak
“bisakah kau tidak ribut? kau baca saja tulisan ini” dia memberikan kertas itu kemudian menjauh dariku, sepertinya dia tidak ingin melihat isi kertas itu sekali lagi

Dear dian & sina
apa kabar? apa kalian merindukanku? hehe
maaf aku tidak memberi kalian kabar selama 3 hari ini, kemarin saat aku berjalan gontai menuju rumahku ada seseorang yang memukulku dari belakang secara tiba-tiba dan aku tidak tau siapa manusia itu
dan ketika aku terbangun aku sudah berada di tempat ini
aku merindukan kalian disini
aku tersiksa.. sudah 3 hari aku melewati hari disini tanpa sedikitpun makanan dan aku mendapat perlakuan kasar disini tapi aku tetap bisa menulis ini untuk kalian, Hebat kan? hehe
aku tak kan menceritakan apa yang kualami karena aku tak ingin kalian sedih
aku yakin umurku tidak akan panjang, berbagai cara telah kucoba namun aku tak pernah bisa keluar dari tempat ini, sepertinya seseorang memang menginginkan aku pergi
maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk kalian, maaf aku tidak sempat tersenyum untuk kalian
maaf jika kalian akan melihatku dengan wajah pucat tak bernyawa bersimbah darah lagi di tempat ini
andai kalian tau, hanya ada 3 wanita yang kucinta di dunia ini
mama.. sina sahabatku dan dian kekasihku
aku harap kalian tidak menangis saat membaca surat ini, walaupun raga ini tidak ada lagi untuk menemani kalian, tapi aku masih berada di dalam hati kalian dan yakinlah aku berada di dekat kalian saat kalian membaca surat ini berduaaku berada disini dengan sebuah senyuman untuk kalian, aku pergi dan selamat tinggal, maafkan aku

JLEB, air mataku menetes sangat deras ketika melihat surat ini. di dalam surat ini juga terlihat tetesan darah dan aku yakin darah ini darah rio. seorang BANGSAT membuatnya pergi tanpa ada seorangpun di sampingnya menemaninya sampai ajal menjemputnya dan hanya dengan secarik kertas ia menyampaikan sakitnya kepada kami
“sina, apa kau tau kenapa aku mengajak kau ke tempat ini?” ucap dian kepadaku namun aku hanya menggeleng karena aku memang tidak tau tentang tempat ini
“Ini tempat terakhir rio pergi” ucap dian dengan airmata yang menetes di matanya
“hah? inikah tempat itu? rio terkurung dalam tempat seperti ini sampai akhir ajal menjemputnya?” ucapku tak percaya
“iya, di tempat ini ditemukan jasad rio, dan jasad itu terbaring tepat dimana kita duduk sekarang” ucap dian yang membuat airmataku semakin menetes
“lalu siapa yang tega melakukan ini dengan rio? siapa?” ucapku dengan nada sedikit histeris
“aku tidak tau karena keluarganya tidak memberi tauku, namun pelakunya sudah ditangan polisi dan polisi juga yang menemukan surat ini tergeletak di samping rio” ucapnya
“aku belum sanggup, aku ga sanggup kehilangan rio” ucapku histeris
“sina, kita harus kuat, apa kau tidak melihat permintaan terakhir rio? dia tidak ingin kita menangis ketika membaca surat ini sin, ayo kuat” ucap dian lalu dia memelukku
“Ya, kau benar.. dan aku yakin rio ada disini dengan kita dian, dia sedang melihat kita dan dia akan sedih jika kita menangisi kepergiannya” ucapku sambil mengelap airmata yang menetes di mataku
“sepertinya kita harus pulang, ini sudah malam” ucap dian sambil menarik tanganku dan aku hanya mengikuti langkah kaki dian saja
“dian, apa kau bersedia menginap di rumahku? aku sendirian di rumah dan aku tidak berani, aku takut bayangan rio kembali menghantuiku” ucapku penuh harap semoga dian menyetujuinya
“ya baiklah” ucap dian yang membuat hatiku lega
“apakah kau ingin ke makam rio?” tanyanya dengan pelan dan “tentu, aku merindukannya” jawabku dengan singkat
tidak terasa, kami sudah berada tepat di depan kamarku kemudian kami masuk ke dalam dan segera istirahat untuk menenangkan fikiran kami yang cukup cukup kacau hariini.
Pagi ini, matahari kembali memberikan senyumannya dengan penuh kehangatan dan kedamaian, seperti rencana semalam kami akan ke makam rio pagi ini
sampai disana aku dan dian hanya bisa berdoa, berdoa agar rio di alam sana tetap tenang dan bahagia
Rio, aku merindukanmu dan apa kau tau aku menyayangimu melebihi sahabat? semoga kau tenang di alam sana :) Love you (batinku dan aku tersenyum sembari memegang nisan rio)
terlihat dian sedang khusyuk berdoa untuk ketenangan kekasihnya ini di alam sana
aku yakin rio tersenyum melihat kami dari alam sana
dan surat ini akan selalu kami simpan untuk mengenangmu Rio

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/surat-terakhir-2.html

Aku Sudah Memaafkannya, Tuhan

Aku Sudah Memaafkannya, Tuhan




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 11 November 2015

Aku mempercepat langkahku. “Shila tunggu!” Aku tidak menoleh sedikitpun, bukan hanya tidak ingin berbicara dengannya, tetapi karena aku lelah dengan semua kebohongannya.
Aku dan Siska sudah bersahabat sejak kami menduduki kursi SMA. Berteman dengannya memang menyenangkan. Sayangnya, yang tidak dapat aku pahami, seringkali dia membohongiku, dalam hal kecil sekalipun. Aku pernah mempunyai pacar bernama Radit. Hubungan kami sudah berjalan dua tahun. Suatu hari, aku memperkenalkan Radit pada Shila. Setelah perkenalan itu, mereka menjadi semakin dekat. Kedekatan yang lebih dari sekedar teman. Kedekatan yang pahitnya lama sekali tanpa ku ketahui.
Pagi itu, Siska memberitahu padaku bahwa Radit menjadi anak baru di sekolah kami. Sudah beberapa hari ini aku sulit menghubuginya. Dan diapun jarang membalas pesanku. “Kok kamu tahu Radit jadi anak baru sekolah kita? Kenapa dia gak ngabarin aku ya?” Tanyaku pada Siska saat itu. “eh.. emmh mungkin maksudnya dia mau kasih kejutan hehe” jawab Siska sedikit terbata.
Sepulang sekolah, aku menghampiri Radit yang sedang berjalan di koridor sekolah.
“Radit.”
“eh Siska” Radit menghentikan langkahnya.
“kenapa gak kabarin aku beberapa hari ini?” tanyaku saat itu.
“iya maaf Shil, aku…”
“hai Shil, Dit. Kalian di sini” sapa Siska tiba-tiba memotong pembicaraan kami. Radit tersenyum. Senyum yang berbeda. Hangat. Senyum yang sudah lama tidak ditunjukkan untukku.
Mereka saling bertatapan itu sekian detik, membuatku cukup sakit melihatnya.
“Shil, anterin aku ke gramedia yuk” ucap Shila setelah membalas senyum Radit.
“Maaf Sis, aku lagi gak enak badan” sekejap Siska menatap Radit penuh harap.
“aku boleh nemenin Siska kan Shil?” ucap Radit padaku. Tiba-tiba dadaku terasa begitu sesak. Entahlah, rasanya aku ingin cepat pergi dari tempat itu. Aku mengangguk perlahan.
“Aku duluan ya” ucapku yang kemudian langsung berlalu meninggalkan mereka.
Aku menahan air mataku. Tidak, aku tidak boleh menangis karena hal ini. Aku aku dewasa. Pikirku. Pandanganmu kabur, dan lututku begitu lemas.
“Shila..” suara Ibu terngiang di telingaku. Benar saja. Itu Ibu.
“bu, aku kenapa?” tanyaku setengah berbisik.
“kamu tadi pingsan, bang Bagas yang membawamu pulang.”
“Iya Shil, kemarin kata dokter tekanan darah kamu kan lagi rendah, kenapa gak nunggu aja di sekolah? Nanti abang jemput” ucap bang Bagas khawatir.
“Iya maaf ya bang..”
Malamnya, aku menerima telepon dari Radit.
“Halo dit, ada apa?”
“kok tanya ada apa sih? Hp kamu kenapa gak aktif?”
“Iya maaf, tadi aku pingsan dit.”
“Shil, ada yang mau aku omongin sama kamu.”
“iya, ngomong aja Dit.”
“Shil, kita putus ya, sebenarnya aku udah tiga bula ini jadian sama Siska.” Aku seketika terdiam lemas, air mata sudah penuh di pelupuk mataku.
“Shil…” panggil Radit dari seberang.
“iya dit..” aku benar-berar tidak tahu harus menjawab apa. Perasaanku sangat hancur malam itu.
“kita temenan ya Shil, jangan jauhin Siska ya Shil.” Aku memutuskan telepon itu. Aku menangis pilu. Mengapa bisa semudah itu Radit memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini? Ini sungguh kenyataan yang pahit.
Esoknya, aku masuk sekolah. Hari yang begitu terasa hampa, tanpa sapaan selamat pagi Radit, tanpa senyum Siska. Entah siapa yang salah, sejak telepon tadi malam, mereka menjauh dariku. Bahkan senyumku pagiku tidak dibalas oleh Siska. Sepulang sekolah, aku melihat mereka pulang bersama. Aku yang berdiri melihat hal itu hanya dapat tersenyum ikhlas, iya. Aku sudah ikhlas melepasnya.
Tiba-tiba aku melihat kejadian yang begitu tidak terduga. Kejadian yang begitu memilukan. Sebuah truk menabrak motor Radit. Mereka tergelincir jauh. Semua warga menghampiri lokasi kejadian seraya ada berteriak, “ada yang kecelakaan!!” Aku segera berlari dan menangis menghampiri tempat itu. Patroli dan ambulans datang. Supir truk segera diamankan oleh kepolisian.
Suasana yang teramat duka. Aku menghampiri tubuh Siska yang sudah tak berdaya. Dia terpental cukup jauh dari lokasi. Sedangkan Radit segera dimasukkan ke mobil ambulans oleh warga. “Siska…!!” aku berteriak pilu. Sakit sekali. Polisi segera mengamankanku untuk tidak mendekat pada jenazah Siska yang langsung dimasukkan ke mobil ambulans.
“Radiitt.. Siskaaa!!” aku menangis sejadinya. Sakit Tuhan, sakit sekali melihat mereka seperti itu.
“ini kecelakaan maut pak,” ucap pak polisi pada warga yang berada di tempat itu.
Sore itu, aku menghadiri pemakaman Radit dan Shila. Tuhan, Engkau maha penyayang, ampunilah dosa mereka. Seperti aku yang kini sudah memaafkannya. Aku ikhlas Tuhan, ini jalan-Mu, ini takdir-Mu, dan Engkau maha tahu segala-Nya.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-sedih/aku-sudah-memaafkannya-tuhan.html

Ladang Edelweiss

Ladang Edelweiss




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 17 August 2015

Entah dengan alasan apa Ayahku memberiku nama Jasmin. Ya, Jasmin yang berarti melati. Bunga yang begitu harum dan indah. Namun nasib dan takdirku tak seindah dan tak seharum namaku.
Tepat enam bulan yang lalu, dokter memvonis bahwa aku terkena penyakit leukimia yang mendekati stadium akhir. Terekam jelas dalam memoriku ketika dokter mengucapkan kalimat itu. Seuntai kalimat yang begitu sukses menjatuhkan impian dan harapan seorang gadis 19 tahun ini. Kalimat itu benar-benar seperti petir yang sukses menyambarku.
Saat itu aku benar nggak tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi sekarang aku sedikit mempunyai harapan, ah benar itu bukan harapan. Mungkin sebuah semangat, semangat baru yang membangkitkanku dari keterpurukan. Karena sekarang aku sedang memandang taman yang sederhana namun begitu indah. Aku bisa berkata begitu indah karena memang taman ini adalah hasil karyaku.
Selain itu, semangat dan keceriaanku yang masih berkobar hingga detik ini adalah karena hadirnya sosok cowok di sampingku saat ini. Cowok yang bisa membuatku begitu beruntung dan membuat semua cewek iri padaku adalah Rangga.
Pertemuanku dengan Rangga untuk yang pertama kalinya berawal dari saat aku memutuskan untuk berjalan-jalan –tentu setelah vonis itu– di taman dekat kompleks rumahku. Saat itu, aku berhasil menemukan sebuah taman dandelion yang letaknya di pojok kompleks taman itu. Inilah tempat yang cocok untukku. Mungkin aku bisa menemukan harapan di kumpulan bunga dandelion ini.
Menurut cerita, jika kita ngucapin sebuah permintaan dalam hati sambil meniup bunga itu, maka keinginan kita akan terkabul. “fiuuuh” aku meniupnya. Dandelion, semoga masih ada harapan kehidupan untukku. Setelah ngucapin permohonanku, tiba-tiba sosok cowok berdiri di sampingku seperti jelangkung yang datang tak diundang.
“Kamu apain dandelionku?” bentaknya.
“Ini kan taman milik umum, jadi aku bebas ngapain aja di sini.” balasku.
“Tapi bukan berarti kamu bisa niup bunga-bunga itu seenaknya! kamu bisa merusaknya. Biarkan tanaman itu hidup tenang karena dia juga berhak hidup seperti kita. Walaupun bunga dandelion ini bagi orang hanya sebagai rumput.”
Wow, menarik. Perkataannya inilah yang yang membuatku kagum. Ternyata pada saat seperti ini –saat isu global warming melanda– masih ada anak manusia yang sangat peduli dengan alam.
Setelah kejadian itu, aku makin sering pergi ke taman itu. Hanya sekedar berjalan-jalan menikmati udara segar dan untuk melihat cowok keren itu tentu saja. Walaupun agak galak tapi dia baik aku tahu itu. Semakin hari, aku makin akrab dengan cowok yang bernama Rangga itu. Kecintaan kita pada bunga membuat kita cocok. Suatu kali, saat aku pergi ke taman aku pingsan. Dan saat aku terbangun, tiba-tiba aku ada di rumah sakit. Ku lihat di sampingku ada Ayah, Ibu, adikku, dan… oh tidak apakah itu benar Rangga? Apakah dia tahu semuanya?
“Kenapa kamu nggak pernah bilang ke aku Jas?” Rangga terlihat begitu terpukul. Berarti dia sudah tahu? tapi seberapa jauh ia tahu?
“Sejauh mana kamu tahu?”
“Semuanya, Jasmin yang aku kenal. Terbaring di rumah sakit karena leukimia, dia keluar dari kampusnya dan melepaskan keinginannya untuk menjadi seorang dokter. Jasmin yang nggak mau dikemo.” Sejauh itu kah ia tahu tentang diriku?
“Bagaimana aku bisa memberi harapan pada pasienku kelak, jika aku sendiri saja tak punya harapan?”
Rangga terdiam sejenak untuk berpikir “Jadilah seperti bunga matahari yang selalu tumbuh menantang matahari.”
Kata-kata Rangga itulah yang membuatku semangat hingga hari ini. Hari-hariku habiskan di taman mini di pekarangan rumahku. Begitupun hari ini yang kuhabiskan bersama Rangga.
“Rangga, aku ingin menanam melati di taman dekat kompleks. Biar namaku bisa dikenang. Aku juga ingin melestarikan melati yang kini mulai dilupakan dan diganti tanaman pendatang.” Rangga pun setuju dan kita berangkat menanam.
Pagi ini aku ingin melihat tamanku sekalian menghirup udara segar. Tak berapa lama kemudian, ku lihat sosok anak yang usianya sekitar 12 tahun, sepertinya dia seorang loper koran. Aku penasaran, bagaimana ia bisa menjalani hidup ini? Kudekati ia.
“Dek, udah nggak sekolah?” tanyaku.
“Masih kok kak, habis nganter koran-koran ini, aku langsung berangkat sekolah.”
“Apa kamu nggak cape?”
“Kalau ku jawab nggak, itu bohong kak. Tapi kata Ibuku, kita harus bisa seperti bunga bugenvil, semakin ia kekurangan air, semakin keras pula ia berusaha hidup dan berbunga indah, ini Kak korannya.” lalu ia pergi. Aku masih tertegun dengan perkataannya.
Ku buka halaman koran itu dengan malas. Tiba-tiba perhatianku tertuju pada judul berita. “Kini Edelweis semakin langka”
Apa yang dipikirkan orang-orang itu? apa mereka tak punya rasa kemanusiaan terhaadap bunga malang itu? tiba-tiba muncul sebuah ide dalam otakku.
“Ayah, Ibu aku ingin piknik. Tapi ajak semuanya ya. Rangga juga diajak loh.”
“Memangnya mau piknik ke mana?” Tanya Ayah.
“Ke taman Edelweis.”
Mereka pun melotot seperti habis nelen sendok.
“Itu berarti di puncak gunung?”
“Iya yah… boleh ya. Kali ini aja yah.” Rengekku. Karena aku tetep kekeuh, akhirnya Ayah setuju. Dan tiga hari lagi kita berangkat. Jadi nggak sabar menanti hari itu tiba.
It’s show time. Hari ini aku akan pergi ke taman Edelweis. Dan semuanya sudah siap.
“Apa kamu yakin Jas?” Tanya Rangga ragu-ragu. Dan aku mengangguk mantap sebagai jawaban.
“Aku kan udah siapin ini buat para edelweis.” kataku sambil menunjukkan papan poster yang ku buat. Ada tulisan “Ijinkan aku tetap hidup dan biarkan aku tetap di habitatku” di sampingnya ada bunga Edelweis yang sedang menangis. Sepertinya kata-kata ini lebih tepat untuk diriku sendiri.
Setelah perjalanan selama dua jam, kita sampai di taman Edelweis. Aku pun langsung menuju ke edelweis-edeweis yang sedang bermekaran itu lalu menancapkan papan poster yang telah ku buat. Setelah selesai, aku kembali bergabung dengan yang lainnya. Udara gunung yang dingin, membuat kepalaku semakin berkunang-kunang. Oh Tuhan, apakah ini waktunya? Samar-samar ku dengar adikku bicara.
“Kakak seperti rumput liar yang hebat walau sering dicabut, tapi kakak tetap tumbuh”
“Jas, kamu seperti bunga matahari yang selalu bersemi dalam hatiku, selalu memberi semangat untukku, inspirasi serta keceriaan.” Kali ini aku nggak mungkin salah ini pasti suara Rangga.
“Bagi Ibu kamu seperti bunga bakung, orang nggak akan tahu keindahannya sebelum ia mekar.”
“Bagi Ayah, Jasmin seperti bunga teratai yang selalu mekar dengan sempurna. Sebuah bunga namun banyak makna.”
Tidak… aku tak bisa dengar kelanjutan kata-kata mereka, Tuhan… apa inilah waktunya?
Terimakasih, kalian semua inspirasiku. Aku ingin menjadi sekuntum edelweis dalam hati kalian. Biar sudah dipetik dari batangnya, tapi ia tak akan pernah layu. Selamat tinggal semuanya. Hanya senyuman terakhir ini yang bisa aku berikan.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-sedih/ladang-edelweiss.html

Harapan Kosong :(

Harapan Kosong :(




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 25 August 2012

Alina Nur Meilani anak pertama dari 2 bersaudara ini selalu mendapatkan nasib jelek dalam hal PACARAN.
Tetapi sekarang saat alin merasa hidupnya sangat hampa ,seorang lelaki bernama Reza Arveadi datang dan memberi warna dikehidupan alin walaupun reza datang dengan membawa rasa galau yang sedang dirasakannya.
Namun alin dengan senangnya mendengarkan semua keluh kesah dan kegalauan reza .
alin selalu memberi semangat kepada lelaki itu .
Lelaki yang baru ia kenal beberapa hari itu telah membuat hidupnya lebih berwarna.
saat itu alin merasa diberi harapan ,alin merasa nyaman dengan reza ,dimatanya reza adalah sosok lelaki yang baik.
Reza pun selalu memberi sinyal positif kepada alin , bahkan suatu saat ketika reza curhat
dan alin memberi semangat ,reza mengucapkan “makasih ya lin :)”
“makasih untuk apa ?”
“makasih kamu udah ngasih semangat buat za ,sekarang za gaakan galau lagi kan udah ada kamu :)”
Kata-kata yang terlontar lewat sms dari reza itu membuat alin bersemangat ,membuat alin merasa terbang ke awan :)
Akhirnya mereka merencanakan jalan-jalan ke tempat wisata di daerah ciwidey . Alin sangat bersemangat karena ia bisa bersama-sama dengan reza .
waktu demi waktu , jam demi jam mereka lewati dengan senyuman , candaan dan tawa mereka ditempat wisata tersebut.
“Rasanya ingin sekali untuk menghentikan waktu agar aku bisa terus bersama dengannya”ucap alin dalam hati.
tapi apa daya setelah hari menjelang sore merekapun bergegas kembali pulang .
saat diperjalanan hujan turun sangat deras .
“hujan neduh dulu aja ya” ucap reza
tanpa perlu jawaban alin reza langsung mencari tempat untuk berteduh. sambil menunggu hujan reda mereka mengobrol dan bercanda sampai akhirnya “Udah lumayan reda tuh , cari makan yuk laper nih ” ucap reza yang memang sudah kelaparan sejak tadi (hahaha)
“iya hayu atuh ,tuh disana ada nasi goreng” jawab alin
“ngga nasi goreng ah ,pengen pecel lele za mah ,cari pecel lele aja ya hehe”
“yaa ayolah apapun jadi aku mah :)”
sampailah mereka ditempat makan ,reza yang kelaparan dari tadi langsung memesan makanan “bu pecel lelenya 2 yang kering ya”
alin hanya duduk dan tersenyum melihat reza .Dan makananpun dataaang ,mereka langsung menyantap pecel lele yang baru saja digoreng tersebut ditemani dengan cuaca dingin karena hujan yang turun sedari tadi.
Setelah selesai makan mereka bayar kemudian langsung tancap gas pulang karena waktu sudah menunjukkan jam 18.30 wib.
sampailah alin dirumahnya ,dan reza langsung pamit pulang.
Sejak hari itu mereka masih smsan seperti biasa ,namun makin kesini intensitas smsan mereka pun berkurang ,alin sempat kebingungan tapi alin berusaha untuk bersikap biasa.
Sampai akhirnya ketika alin ‘kepo’ lihat fb reza disana alin melihat ada status terbaru dari reza yang membuat alin berpikir bahwa reza balikan lagi dengan mantannya .
sedih ,bingung, hancur, galaulah intinya.
alin langsung mengirim sms ke reza namun tidak dibalas oleh reza, alinpun sadar mungkin pikirannya tentang reza itu benar ,tapi alin masih penasaran.
Dan keesokan harinya alin membuka fb dan ‘kepo’ lagi, ternyata benar !!
Ternyata lelaki yang memberi harapan kepadanya itu balikan lagi dengan mantannya. makin hancur ,sedih dan semakin galaulah alin.
“mengapa nasib mempermainkanku? mengapa dia dibiarkan datang kepadaku dan memberi warna dihidupku hanya sesaat? mengapa sekarang dia pergi dengannya? mengapa dia pergi dengan orang yang sudah pernah memilikinya? apakah tidak ada kesempatan untuk aku memilikinya?
mengapa dia menyentuh hidupku kalau hanya untuk menyakitiku?” semua pertanyaan itu berlari-lari dipikiran alin.
Alin benar-benar kecewa karena ia merasa telah diberi harapan kosong oleh reza.
Alin menangis dan merenung semalaman sampai ia ketiduran.
Dan keesokan harinya alin bangun dengan hati yang masih hancur dan dengan matanya yang sembab. Namun alin berusaha tegar ,alin berusaha ikhlas dengan kenyataan ini. mungkin memang reza masih sayang ke mantannya,jadi mau segimanapun alin tidak akan bisa memaksakan kehendaknya.
dan 1 hal yang membuat alin kuat “Allah SWT pasti akan menggantinya dengan seseorang yang lebih baik ,Alin percaya itu !! :)”

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/harapan-kosong.html

Antara Kita

Antara Kita




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 4 March 2014

“kringg…kringg” jam wekerku berbunyi, aku mulai mengangkat tubuhku yang terbaring menjadi duduk. “mimpi apa ya aku semalem?” gumam ku. Seketika suasana mnjadi sepi ktika ku ingat mimpiku malam tadi. “sudahlah Serra itu cuma mimpi,” aku mencoba menenangkan diri. Ku bukakan selimut dan berjalan menuju kamar mandi. Selesai berdandan ala anak sekolah aku menuruni anak tangga untuk sarapan
“pagi ma, pah, kak..” aku menyapa keluargaku yang sudah duduk di bangku meja makan. Namun, semua orang tak menjawab sapaanku, malah murung. “Ma, Pah, Kak aku berangkat dulu ya bareng Ozy pacarku” kataku, namun ketika ku mulai berjalan keluar ruang makan,
“serra, Ozy…” kata Kak Arha tiba-tiba dengan air mata terurai
“Ozy kenapa Kak?” aku menaikan alisku
“Ozy kecelakaan ketika akan kesini, dia menabrak truk kontainer. Dia tewas seketika di Tempat” Air mata kak Arha dan penjelasanya yang tajam membuat ku tak mampu membendung air mataku sendiri. “Ozy… hikzz” aku mulai menjatuhkan lutut ku dan menggeleng-gelengkan kepala seraya tak percaya. “Ozyyy huhuaaa” aku mulai menangis histeris. “udah Ser, sekarang kita berangkat ke rumah Ozy lalu ke sekolah.
Sampai di rumah Ozy yang dipenuhi orang berpakaian hitam, aku mulai masuk dan tak kuasa menahan duka yang mendalam. “Oozzyy!!” aku memeluk jasad Ozy yang sudah tak bergerak, “sudah Nak Serra, ini semua sdah takdir yang maha kuasa” kata Bunda Ozy. Ketika Bunda Ozy mengelus rambutku, bayangan Ozy datang di hadapanku dan berkata “Serra ku sayang, Ozy berangkat dulu ya. Bye bye sayang” kata-kata yang keluar membuat ku semakin sedih. “Ozy…” batinku
“Serra ke sekolah yu!” ajak Kak Arha, aku pun berjalan keluar dengan tatapan kosong. Sampai di mobil betapa kagetnya aku di samping ku ada bayangan Ozy. “Ozy..” kucoba menyapa bayangan itu. “Serra, ku akan pergi ketika kau membuka lookerku yang di dalamnya terdapat sebuah boneka bertuliskan “Serrozta” kata bayangan itu. Seketika turun dari mobil ku langsung berlari menuju Looker Ozy, langsung ku ambil boneka itu.
Tiba di kelas, aku mulai duduk du bangku ku. Hari Sekarang adalah test lagu pop yang kita suka. Bu Povi pun masuk, satu persatu siswa nyanyi ke depan. Tiba nama ALSHEIRINA SHERRA ELYANA, aku mulai ke depan dan bernyanyi lagu ‘Antara ada dan tiada’ ketika ku bernyanyi, terlintas di benakku bayangan Ozy ketika tersenyum…
Tamat

sumber :http://cerpenmu.com/cerpen-sedih/antara-kita.html

Misteri Ruangan Kosong Di Sekolah

Misteri Ruangan Kosong Di Sekolah




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 27 November 2015

“Dina, kamu mau ke mana?” tanya Dita sambil mengejarku.
Aku menoleh ke arah Dita, temanku. Aku menatap Dita dengan heran karena wajah Dita tampat terlihat khawatir.
“Aku mau ke ruangan kosong itu,” jawabku.
“Apa?!” Dita terkejut, lalu ia mulai ketakutan. “Kamu jangan ke sana!” teriak Dita sambil menarik tanganku.
“Kenapa?” tanyaku. Aku berusaha melepaskan tanganku, tapi Dita tidak mau melepaskan.
“Kamu tidak tahu, Dina. Bahwa, ruangan kosong itu angker,” jawabnya. Aku hanya terdiam mendengar jawaban Dita, tapi aku tidak percaya.
“Aku tidak percaya!” ucapku. Dita menatapku dengan tajam. Ia benar-benar terkejut mendengar jawabanku.
“Kamu harus percaya dengan perkataanku, Dina. Dulu, ada seorang gadis yang bernama, Risya. Risya dibunuh oleh kawan-kawannya karena Risya sangat dibenci oleh kawan-kawannya. Sejak ia dibunuh, arwahnya mulai bergentayangan di ruangan kosong itu, tempat peristiwa itu terjadi,” cerita Dita.
Tapi, aku masih tidak percaya dengan ceritanya Dita. Mungkin itu ceritanya yang dibuat-buat supaya aku merasa ketakutan.
“Huh! Aku tidak peduli! Aku masih tidak percaya padamu! Kalau kamu takut, kamu pergi saja!” bentakku pada Dita.
“Iya sudah kalau kamu tidak percaya!” sahut Dita dengan marah, sambil beranjak pergi. Aku bergegas memasuku ruangan kosong itu. Ruangan itu memang terlihat kosong! Lantai-lantai yang masih kotor dan banyak sarang laba-laba yang menempel benda-benda yang tersisa di ruangan ini.
Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang memegang tanganku. Ketika aku menolah ke belakang, tidak ada orang. Aku mulai merasa ketakutan saat aku melihat lantai-lantai yang penuh banyak darah. Dan ulat-ulat yang menjijikkan.
“Sepertinya aku harus pergi dari sini,” gumamku. Aku segera berlari menuju pintu, namun aku terkejut melihat sesosok gadis muncul di hadapanku. Gadis itu memegang sebuah pisau tajam yang sudah berlumuran darah.
“Si… siapa kamu?” tanyaku ketakutan. Gadis itu hanya diam saja. Wajahnya terlihat sangat seram. Baju yang ia kenakan juga penuh darah. Badannya penuh dengan goresan-goresan luka dan sebagian badannya mulai membusuk.
Gadis itu segera mendekatiku. Aku pun semakin ketakutan. Gadis itu menatapku dengan dingin. Ia terus berjalan mendekatiku. Bau yang tidak sedap tercium olehku.
“Kenapa, kamu di sini? Seharusnya, kamu tidak usah masuk ke dalam ruangan ini. Karena, kamu telah memasuki ke dalam ruangan ini. Maka, kamu harus dibunuh!” kata gadis itu sambil mengangkat pisaunya.
“Jangan!!!” teriakku ketakutan. Aku langsung berlari dan ke luar dari ruangan kosong itu. Tiba-tiba, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Sehingga kami terjatuh.
“Dita!” Rupanya, orang yang ku tabrak tadi adalah Dita.
“Aduh, sakit! Eh, Dina. Kamu kenapa?” Dita segera menolongku berdiri.
“Aku tadi bertemu hantu di ruangan kosong itu,” jawabku ketakutan.
“Ka… kamu bertemu dengan hantu,” jawab Dita terbata-bata. Aku mengangguk.
“Aku kan, sudah bilang padamu jangan masuk ke ruangan kosong itu. Itulah akibatnya,” kata Dita.
“Maafkan aku. Aku memang salah,” jawabku merasa bersalah.
Sejak saat itu, aku tidak memasuki ruangan itu. Ketika aku melewati ruangan kosong itu, aku melihat gadis itu menatapku sambil terseyum sinis, lalu ia pun menghilang.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-horor-hantu/misteri-ruangan-kosong-di-sekolah.html

Umbrella

Umbrella




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

Aku harus cepat membereskan pekerjaanku dan harus segera pulang. Ini sudah terlalu larut, jam di dinding kafe menunjukkan pukul 10.03 pm, dan biasanya aku pulang pada pukul 09.00 pm. Astagaa.. Bahkan aku sama sekali belum mengerjakan tugas sekolah yang akan dikumpulkan besok. Benar-benar bodoh! S*it! Mengapa aku sial terus sih hari ini? Dan dengan gilanya aku sama sekali tidak membawa payung ataupun jas hujan.
Padahal cuaca akhir-akhir ini sedikit tidak bersahabat. Dan sialnya aku terjebak hujan di halte depan kafe tempatku bekerja dan hampir tengah malam! Dan sial, sial, sialnya tidak ada angkutan umum yang lewat! Oh God! Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat siluet seseorang membawa payung yang berjalan ke arah halte. Dan dilihat dari perawakannya, dia seorang pria.
“Hei, nona? Sedang apa di sini?” Tanyanya saat sudah sampai di halte dan berdiri hanya berjarak beberapa meter dariku. He’s so damn cool! “Kau tahu, di sini sedang hujan dan aku sama sekali tidak membawa alat peneduh. Dan, as you see, aku terjebak hujan,” Ku lihat dia hanya menganggukkan kepala. “Siapa namamu nona?”
“Jade, Jadelica Corton,”
“Perkenalkan, aku Petter Grey, kau bisa memanggilku Petter.”
Dan dia memperkenalkan diri dengan senyum yang menawan. Dan aku seakan meleleh dibuatnya. “Sepertinya payungku cukup lebar untuk digunakan dua orang. Stand under my umbrella if you can, Jade,” Apa dia berniat memberiku tumpangan? Tapi aku sedikit ragu, kami baru beberapa detik saling mengenal, dan dia langsung memberiku tumpangan begitu saja? Tapi, daripada aku terus berlama di sini, yang belum tahu pasti kapan hujan akan reda -atau mungkin besok pagi- langsung saja menerima tawarannya. Dan dia bersedia mengantarku sampai rumah.
Di perjalanan, kami berbicara layaknya seorang teman lama, dia orang yang easy going. Dan aku tahu dia seorang pelajar SMA ternama di London. Lalu kenapa seorang pelajar berkeliaran tengah malam seperti ini? Tak terasa aku sudah berada di depan gerbang rumahku. Dan aku berniat menawarinya untuk masuk sebentar ke dalam, tapi dia menolak dengan alasan ini sudah terlalu malam. Dan benar saja, jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 11.30 pm. “See you next night, Jade.” Ucapnya sebelum aku memasuki gerbang. Dan begitu aku sampai di depan pintu rumah, aku membalikkan badan dan ku lihat Petter masih berdiri di sana dengan wajah yang apa? Memucat? Aku tersenyum kaku ke arahnya dan melambaikan tangan sebelum aku benar-benar masuk ke dalam rumah.
Sepertinya akhir-akhir ini aku sering pulang larut dari pekerjaanku. Dan dengan kebetulannya juga saat aku akan pulang dan berhenti di halte, hujan turun dengan derasnya mengguyur aspal jalanan, tidak ada angkutan umum, dan diakhiri datangnya Petter dengan membawa payungnya, mengantarku pulang, dan berkata ‘see you next night’. Benar-benar seperti deja vu yang realistis. Tapi malam ini dia berkata lain, seolah dia tidak akan datang pada malam berikutnya.
“Pett, apa kau tidak ingin masuk dulu? Sekalian aku buatkan teh hangat,”
“Tidak terima kasih. Dan ku harap kau jangan merindukan aku. Karena we aren’t meet again in a long day and way,
“Maksudmu?”
“Kau akan mengerti.. Dan jangan lupa ucapkan salammu pada orangtuamu saat kau akan kerja besok.”
Dan aku membalasnya hanya dengan sekali anggukan lalu segera bergegas memasuki rumah tanpa harus menoleh lagi. Karena kali ini aku merasa tidak beres.
Seperti yang dikatakan Petter kemarin, aku memberi salam kepada orangtuaku sebelum berangkat ke kafe. Hujan lagi-lagi mengguyur jalanan. Dan kali ini aku melihat Petter sudah duduk di bangku halte. “Hai, Pett. Kau sudah lama?” Dan dia hanya tersenyum dengan wajah pucatnya. Apakah dia sakit?
“Dimana payungmu?” Tanyaku saat tidak melihat keberadaan payungnya.
“Kau tidak membutuhkan payung lagi mulai sekarang,”
“Maksudmu?” Dia hanya menyeringai dan mengambil sesuatu di dalam jaketnya dan mengeluarkan benda tersebut. Pisau?
“Untuk apa pisau itu?” Tanyaku was-was.
“Untuk mengambil kulitmu!”
Aku tersentak saat benda tajam dan dingin itu sudah bersarang di jantungku. Dan dia memainkan pisaunya di dadaku, sambil sesekali memutarnya. Dan pisau sial itu semakin merambat ke leher. Dan Petter menggerakkan pisau itu untuk memutuskan urat nadiku. Darah bercecer ke mana mana. Yang tentunya itu adalah darahku. Dan kau tahu? Tubuhku sekarang sudah tak berkulit. Kau tanya ke mana kulitku? Sialnya kulitku dijadikan kain payung oleh Petter yang gila itu.
“Kau yang ke-49, Jade.” Dan aku tahu masih akan ada korban lainnya setelahku. Baunya sangat anyir!
The End

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-horor-hantu/umbrella.html