Minggu, 28 Februari 2016

Guru Ku Motivasi Hidup Ku

Guru Ku Motivasi Hidup Ku



Tidak terasa sebentar lagi tanggal 25 November. Dimana semua siswa Indonesia akan memperingati hari guru. Jika aku melihat jasa para guru, itu sangat berjasa sekali bagiku. Guru tidak pernah lelah untuk memberikan semua ilmunya, yang kelak akan bermanfaat untukku di masa depan. Tanpa guru aku bukanlah siapa-siapa. Bukan orang yang berpendidikan. Juga bukan orang yang mempunyai prestasi. Guru adalah ibu kedua bagiku. Tempat aku berdialog dan tempat aku bersosialisasi.
“Wayo!! Kamu sedang mikiri apa?” Ika menepuk pundaku sambil mengagetkan aku.
“Apaan sih, kaget tahu.” Jawabku yang penuh dengan kekesalan.
“Oh iya, kamu tahu tidak. Sebentar lagi sekolah kita akan memperingati hari guru. Kalau boleh tahu guru Favorit kamu siapa?”
Tetttt.. tettt.. tett Bel tanda masuk berbunyi. Aku tidak sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ika tadi. Aku langsung bergegas masuk, karena pelajaran akan dimulai. Saat aku mengingat semua jasa guru. Aku teringat dengan sosok guru yang memotivasi hidupku. Guru itu bernama Ibu Sity. Tetapi ia lebih suka dipanggil Bunda.
“Assalamualaikum anak-anak.” Ibu Sity menyambut semua siswanya dengan ucapan dan senyuman.
“Waalaikumsalam Bunda.” Jawaban yang diucapkan oleh semua siswa dengan semangat.
Ibu Sity adalah guru yang selalu dinanti-nanti kehadirannya. Banyak motivasi yang selalu ia sampaikan. Motivasi itu yang sangat berguna sekali bagiku dan teman-temanku semua. Kadang aku berpikir apa motivasi hidupku di masa depan. “Apakah aku bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi orang banyak?” Namun ketika aku mengingat kata-kata Ibu Sity. Aku belajar untuk mengintropeksi diriku. “Orang yang dikatakan fisiknya tidak sempurna saja bisa menjadi orang yang sukses dan tidak pantang menyerah. Kenapa aku yang dikatakan sempurna tidak mau berusaha dan berdoa. Hanya bisa menyerah dengan keadaan.
Aku mencoba merenungi semua kata-kata yang dilontarkan Ibu Sity. Hingga terbawa aku ke dalam lamunan yang tidak tahu akhirnya.
“Raa..Ra..araaa” Ika memanggilku berkali-berkali dengan nada yang mulai kesal.
Aku bergegas melihatnya sambil berkata. “Ada apa Ika? Kenapa teriak-teriak begitu?”
“Aku memanggil kamu sedari tadi. Kamu belum menjawab pertanyaanku Ra!! Siapa guru Favorit kamu?” Ika masih penasaran dengan jawabanku.
“Guru Favorit aku Ibu Sity, Ika.”
“Dia baik iya Ra..”
“Tentu. Ibu Sity selalu memotivasi hidupku. Membuatku mengerti kenapa ilmu sangat berguna sekali di masa depan.” Aku menatap Ika dengan senyuman.
Guru itu ibarat lilin. Ia rela terbakar, demi menerangi masa depan anak muridnya. Dan guru mempunyai 1001 cara agar siswanya kelak menjadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa. Walaupun sudah lelah, guru tidak pernah memperlihatkannya kepada siswa-siswanya. Karena ia tidak ingin siswanya menjadi orang yang selalu menyerah. Peran guru sangatlah penting bagi Pendidikan. Guru tidak pernah meminta imbalan sedikit pun dari siswanya, meski ia sudah mengajar berpuluh-puluh tahun.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-pendidikan/guru-ku-motivasi-hidup-ku.html

Tahajud Nenek Aisha

Tahajud Nenek Aisha



“Labbaik Allahuma Labbaik. Labbaik Laa Syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak.”
Itulah ucapan talbiyah yang ingin nenek Sumtiantuti ucapkan di tanah suci Mekkah pada saat menjalankan rukun islam yang kelima. Nenek yang berumur setengah abad lebih 10 tahun ini telah berpuluh tahun lamanya ingin menunaikan ibadah haji. Nenek yang lebih sering disapa nenek Aisha dengan warga sekitar karena ia memiliki cucu bernama Aisha. Ia pun harus lebih sabar menunggu kapan ia bisa menjalankan rukun islam yang kelima itu.
Cucunya yang masih berumur 6 tahun pun harus masih ditanggungnya lantaran kedua orangtuanya sudah menghadap sang kuasa lantaran kecelakaan tragis yang menimpanya. Entah cuaca yang begitu terik maupun hujan ia setiap hari keliling kampung menjajakkan jamu buatannya sendiri, tak kalah punggungnya terkadang sakit di malam hari. Kulit keriputnya, matanya yang sayup, tubuhnya yang begitu kurus dan badannya membungkuk begitulah kira-kira keadaannya. Baginya, hanya Aishalah sang penyemangatnya, lentera baginya. Tiada suami dan anak kini cucu semata wayangnyalah teman masa tuanya, harapan satu-satunya baginya.
“Nenek, Nenek selama ini Aisha lihat sering memasukkan uang ke celengan ayam. Nenek menabung ya?” tanya Aisha suatu malam di ruang tamu.
“Iya, Nenek menabung sayang.”
“Apakah uangnya sudah banyak?”
“Tidak tahu, Nenek belum menghitungnya.”
“Lalu, untuk apa uang itu Nek?” Aisha pun terus bertanya.
“Untuk naik haji.” sambil tersenyum kecil.
“Naik haji? Naik haji itu apa Nek?”
“Sudahlah, kita tidur saja ini sudah larut malam.”
“Tidak, lebih baik kita hitung saja uang di celengan ayam itu Nek.”
Nenek Aisha pun terdiam sejenak, lalu ia mengangguk. Ia pun menghitung uang tersebut bersama Aisha.
“Semuanya 10 juta Nek. Apakah 10 juta sudah cukup Nek?”
“Tidak Aisha, ini belum cukup. Nenek masih butuh banyak uang untuk pergi haji.”

Mentari telah menyapa dunia, pagi ini nenek Aisha tidak keliling kampung menjajakkan jamunya karena ia sedang sakit. Entah sudah berapa kali Aisha menangis dan kini matanya sembab, ia menangis lantaran neneknya sakit ia bersikeras tidak mau sekolah.
“Kenapa Aisha tak mau sekolah?” sambil berbaring di tempat tidur.
“Aisha mau ngerawat Nenek.”
“Tidak perlu, sana pergi ke sekolah. Nenek tidak apa-apa.”
“Tidak mau Nenek.”
Nenek Aisha pun tidak bisa memaksa Aisha. Dengan penuh kasih sayang Aisha mengompres neneknya, memberi neneknya obat warung, memberinya makan walaupun hanya dengan garam karena ia belum bisa memasak. Tidak heran tapi jika neneknya ia beri makan nasi dan garam saja, hampir tiap hari Aisha dan neneknya hanya makan itu. Memang miris, tetapi inilah takdir semuanya sudah ada yang membuat skenarionya yaitu sang kuasa. Langit telah berganti malam. Tengah malam yang begitu sunyi hanya ditemani suara jangkrik, nenek Aisha tebangun dari tidurnya. Entah apa yang membuatnya seperti ini ia kemudian mengucapkan ucapan talbiyah, lebih dari satu kali ia ucapkan sambil berbaring terus ia ucapkan. Lalu ia pergi mengambil wudhu dan menjalankan tahajud.
Aisha mengalami perasaan gundah dan gelisah kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya dan ia melihat neneknya yang sedang sujud. “Nenek salat?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun mendekati neneknya yang sedang salat, tiba-tiba ia merasa ada yang aneh. Dan sontak Aisha pun terkejut. Inilah tahajud nenek Aisha yang terakhir dalam hidupnya.
Cerpen Karangan: Yuni Lestari

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/tahajud-nenek-aisha.html

Senin, 22 Februari 2016

Cinta Dalam Melodi

Cinta Dalam Melodi




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 14 June 2013

Di sini tempat ku berdiri.. Agar aku dapat melihat senyum manis dari bibirmu, dan di sini tempat ku bersembunyi, agar kau tak pernah menyadari tentang hadirku di sini. Karena aku tau, hadirku akan membawa mu dalam tangis, dan akan menghanguskan kebahagiaanmu bersamanya. Dan ku yakinkan diriku untuk dapat tersenyum untukmu dapat bersamanya.
Dulu, aku sadari bahwa kehadiranmu di hidupku hanyalah pelampiasan sesaat mu, saat kau tak bersamanya. Aku pun menyadari semuanya.. Kata-kata mu yang kini ku jadikan memori terindah dalam hidupku tak lebih dari satu jurang yang kini mengurungku.
Kau tak akan pernah menyadari tentang ini. Karena aku akan diam, meski kau lah pencipta luka terhebat dalam hidupku. Aku pun menyadari aku belum bisa melepas bayangmu dari hati dan fikiranku. Aku membenci satu hal dalam hidupku, yaitu karena aku harus mencintaimu.
Sesekali aku mencoba melupakanmu, tapi dunia ini menakdirkan hal lain untuk ku. Bukan ku dapat memilikimu lagi, tapi karenanya aku harus selalu mengingatmu. Segala hal yang ada di dunia ini.. Selalu dan selalu tertuju padamu.
“kau lah cahaya dalam hidupku, kau berikan terangmu diantaranya. Aku sadar aku gak akan pernah bisa di antaramu karena kau ada jauh di sana. Dan aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Terkadang aku menginginkan turunnya hujan pada setiap malam, karena hujan lah yang dapat menutupmu. Tapi hatiku ini selalu menginginkan cerahnya langit pada setiap malamku agar aku selalu dapat melihat cahayamu da mengingat luka terperih dalam hidupku”.
Meski kini ku telah bersamanya yang tak berarti di hatiku. Namun dia yang berarti di hidupku. Aku pun tak mengerti dengan diriku kini, apa ku menyakitinya.. Atau aku juga hanya menjadikan dia pelampiasan di hidupku. Satu yang ku tau.. Aku akan selalu mengenangmu meski itu membutuhkan beribu tetes air mata yang akan jatuh dengan percuma.
Sekarang… Apa aku harus menunggumu, atau melupakanmu..
Ku tunggu waktu yang akan menjawabnya. Tapi ku harap kebahagiaanku akan datang tanpa orang yang pernah menyakiti hati ku.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/cinta-dalam-melodi.html

Siti Nurbaya Hidup Lagi

Siti Nurbaya Hidup Lagi




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 29 September 2013

40 tahun yang lalu, ada gadis bernama Siti. Nama panjangnya Marsiti. Satu kata saja. Menurutnya, dia rupawan. Dan itu memang benar. Dia kembang desa. Banyak orang terpesona dengan wajahnya yang cantik jelita. Usianya 15 tahun. Dia baru lulus dari SMP. Tidak banyak anak bisa sekolah seperti dia, apalagi untuk anak gadis. Kebanyakan gadis di kampungnya lulus dari SD bahkan belum lulus SD sudah menikah. Memangnya mau apa kalau tidak menikah? Sekolah, tidak. Bekerja pun tidak. Paling membantu Ibu memasak di dapur atau ngerangsum – mengirim makanan – Bapak ke sawah. Jadi menikah usia muda di waktu 40 tahun yang lalu adalah pilihan utama. Meringankan beban orang tua dengan mengabdikan diri menjadi isteri sholihah.
Tapi tidak dengan pemikiran Siti. Darah Kartini mengalir dalam nadinya. Dia ingin sekolah setinggi-tingginya. Bercita-cita mulia untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi seorang guru adalah tujuannya. Namun dia merasa jalannya tidak mudah. Karena malam itu, keluarganya kedatangan seorang tamu.
“Kalau saya setuju-setuju saja, Pak.” Bapaknya mengangguk mendengar jawaban Ibunya.
“Jadi bisa langsung diresmikan nggeh, Bu? Nanti saya datang lagi untuk melamar.” Tegas lelaki yang duduk di hadapan Bapak dan Ibunya.
Siti mencuri dengar pembicaraan dari lubang kunci pintu kamarnya. Dilihatnya orang yang menjadi tamu penting Bapak Ibunya. Rambut putih telah tumbuh di kepala. Beberapa kumisnya pun telah memutih. Pakaiannya rapi. Jam tangan bertengger di tangan kiri. Mobil sedan merah dengan seorang supir yang mengantarnya singgah di rumah Siti. Siti menyimpulkan dia orang kaya raya. Penampilannya tidak seperti lelaki desa pada umumnya. Namun tetaplah Siti tidak terima jika lelaki seperti itu yang Ibu dan Bapaknya pilihkan sebagai suami. Dia terlalu tua. Siti kecewa. Sangat kecewa. Siti tak habis pikir, betapa tega Bapak dan Ibunya menjual dirinya hanya demi harta.
Sudah saatnya siswa SPG (Sekolah Pendidikan Guru) mulai masuk sekolah. Letak sekolahnya di kota. Siti lulus tes masuk di sekolah negeri itu. Namun Siti tidak beranjak satu langkah pun dari kampungnya. Bapak dan Ibunya tidak mengizinkan Siti melanjutkan sekolah sesuai keinginan Siti. Dia hanya di rumah menganggur. Kabar yang sampai di telinga Siti, dia telah dilamar oleh seseorang tanpa sepengetahuannya. Dia telah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Tentu saja Siti berontak. Dia tak mau menikah dengan siapapun pada waktu itu. Dia ingin mengejar cita-citanya.
“Aku akan merantau ke Jakarta. Aku cantik. Pasti banyak orang yang mau mengangkatku menjadi anak. Kalau tidak, aku akan bekerja sebagai pembantu atau apapun. Cari uang untuk bisa sekolah.” Demikian kata yang selalu Siti ucapkan kepada setiap orang yang dia jumpai.
Mulai dari tetangga sebelah rumah, ibu-ibu arisan, orang matun – menanam padi -, pegawai kecamatan rekan kerja Bapaknya Siti, sampai mlijo – penjaja sayur – yang biasa lewat depan rumah, mengetahui cerita malang Siti. Siti yang ditunangkan dengan seseorang yang tidak dia suka dan Siti yang berniat untuk kabur dari rumah.
Sudah jauh-jauh hari sebelumnya Siti berencana mengendap-ngendap di kegelapan malam dan pergi entah kemana kakinya akan melangkah. Beberapa hari Siti mengumpulkan kenekatan dalam dirinya. Dan dia telah siap. Baju dan kebutuhan lain telah dia masukkan ke dalam tas sekolah. Satu jam lagi. Dia menunggu jarum jam pendek berhenti pas di angka 10 dan jarum jam panjang mendekati 12. Di jam itu biasanya lampu sudah dipadamkan dan penghuni rumah terlelap dalam tidur.
09.30 pm
“Siti…” Panggil Bapaknya
“Aduh.” Gumam Siti lirih. Spontan telapak tangan Siti memukul kepalanya sendiri mendengar seruan itu.
“Sini, Nak…” Bapaknya mengulang panggilannya karena tidak mendengar respon apapun dari Siti.
‘Apa ketahuan yah..’ pikir Siti. Siti bukanlah anak yang biasa mengabaikan perkataan Bapaknya. Diletakkan tas berat yang sedari tadi ditentengnya. Lalu dia mendatangi sumber suara itu.
“Iya, Pak…” Siti melihat kedua orang tuanya duduk bersebelahan.
“Duduklah!” Perintah Bapaknya.
Siti duduk sambil menggenggam erat jemarinya. Dia panik. Dia didudukkan seperti ini berarti akan diinterogasi dan dihakimi. Siti takut orang tuanya akan sangat marah. Lebih parah lagi kalau Siti diusir sebelum sempat dia kabur dari rumah. Tentu akan beda kesannya, jika dia pergi dari rumah dengan alasan kabur atau diusir.
“Besok Siti sudah bisa melanjutkan sekolah.” Kata-kata Bapaknya membuat Siti kaget dan langsung mendongakkan kepala.
“Kenapa-tiba-tiba-Bapak…” Siti berkata terbata-bata.
“Siti.. Harimau saja tidak memakan anaknya sendiri, apalagi Bapak dan Ibu. Mana mungkin Bapak mengorbankan kebahagiaan Siti hanya untuk kesenangan Bapak atau Ibu. Kalau Siti tidak setuju dengan perjodohan itu, tak apa, Bapak tidak memaksa. Bapak sudah mengurus semua keperluan sekolah Siti. Belajarlah yang rajin, raih cita-citamu, Nak..” Dengan berwibawa Bapaknya menyampaikan maksudnya tanpa ada garis kemarahan sedikit pun di wajah. Berbeda 180 derajat dari perkiraan Siti.
Sore hari itu Siti membersihkan rumah. Sudut ruangan, kolong meja. kolong kasur, tak ada debu yang terlewat dari sapuan Siti. Tak lupa, Siti pun membereskan meja kerja Bapaknya. Siti amankan dokumen-dokumen penting ke dalam laci agar tidak hilang atau tertiup angin. Sampai mata Siti tiba di kertas putih yang digulung dan diikat dengan sehelai pita merah. Penasaran, Siti membukanya.
… Mohon maaf, mengenai perjodohan, saya dengar anak Bapak tidak setuju. Saya bermaksud membatalkannya. Mungkin belum berjodoh. Saya tidak mau menghidupkan Siti Nurbaya ke dunia lagi…
Begitulah sepenggal kata yang terekam dalam ingatan Siti sampai sekarang. Surat itu tertanggal 3 hari sebelum Bapaknya mengizinkan Siti sekolah lagi. Pastilah itu dari pak tua yang pernah datang melamar Siti.
Selanjutnya, hari-hari Siti jalani tanpa ada kata perjodohan. Setelah menuntaskan pendidikannya, Siti ditugaskan mengajar SMA di daerah terpencil. Jauh dari rumah dan sanak saudara. Hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya.
Siti merasa ini hanya kebetulan semata, namun sebenarnya kitab takdir telah mencatat sebelum Siti terlahir ke dunia. Disana Siti mengenal polisi tampan yang senasib dengannya. Panggilannya Pak Sugi. Nama panjangnya Sugiantoro. Satu kata saja. Dia dinas di daerah terpencil itu juga. Jauh dari rumah dan sanak saudara. Hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya. Disanalah, di desa yang lebih desa dari desanya Siti, di kampung yang lebih kampung dari kampungnya Siti, takdir cinta mengikat hati keduanya.
Betapa terkejutnya Siti menjumpai lagi lelaki yang dulu dia panggil dengan sebutan pak tua. Dia orang yang dulu pernah Siti tolak lamarannya. Ternyata dulu pak tua melamar Siti untuk anaknya yang masih menjalani pendidikan kepolisian, dia adalah Sugi. Pak tua itu kini menjadi mertua. Yah, kitab yang mengatur perjodohan telah mengatur semuanya. Entah melalui perjodohan atau perkenalan, bagaimanapun jalannya, takdir telah menulis Sugi sebagai jodoh Siti dan melancarkan prosesnya hingga ke pelaminan. Mereka pun hidup bahagia hingga sekarang…

Aku duduk tertunduk sambil meremas jemariku. Bukan panik karena akan dimarahi, tapi mungkin karena grogi. Keluargaku kedatangan tamu. Tamu itu kini menunggu keputusanku. Aku mendongakkan kepala dan mengangguk malu, menandakan bahwa ‘iya’ adalah jawabanku.
Pendidikan kedokteranku telah selesai. Mereka berjanji mendukung dan mengizinkanku melanjutkan tugas pengabdian. Aku bukan anak kecil lagi. Melaui istikharah kuminta petunjuk dan kemantapan hati kepada Sang Pengasih. Kisah Siti yang diceritakan oleh Mama semalam juga memberiku sedikit pencerahan. Tak ada salahnya jika aku menerima perjodohan.
Kulirik Siti dan Sugi yang kini menjadi Mama dan Papaku. Mereka tersenyum. Kulihat lelaki di hadapanku yang hari ini pertama kalinya kita bertatap muka. Dia juga tersenyum. Dan rasanya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Kulirik pasutri bakal mertuaku. Semuanya tersenyum. Aku bukan Siti Nurbaya yang hidup lagi. Lain. Ini adalah cerita perjodohan yang berakhir bahagia..

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/siti-nurbaya-hidup-lagi.html

Move

Move




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 10 October 2015

“cek.. cek.. satu dua tiga..” cek sound yang sedang dilakukan oleh Andri dengan band-nya yang tak lama lagi akan tampil dalam sebuah acara apresiasi seni di sekolahku. Terlihat ia yang berdiri sambil memegangi mikrofon yang akan dia pakai ketika tampil nanti. Sangat tampan dengan memakai kemeja panjang berwarna merah dengan menutupi kepalanya oleh topi berwarna selaras. Aku terus memandanginya. Sedang asyik memandangi wajah tampannya, pandanganku berlalu ketika seseorang memanggilku dari arah belakang.
“Ditaa…” panggilnya sambil melambaikan tangan.
Rio. Kakak kelasku yang berperan menjadi pacarku saat ini. Hampir setengah tahun aku dan Rio menjalin hubungan. Namun, tetap saja jantung ini hanya berdetak kencang ketika aku melihat Andri, vokalis band di sekolahku.
“kamu ngapain di sini? Aku cari-cari dari tadi,” ucapnya dengan napas yang sedikit ngos-ngosan.
“maaf, aku mau lihat acara apresiasi seni sekolah kita.”
“acaranya kan belum dimulai, band-nya Andri aja lagi cek sound, kamu ngapain di sini? Mau neglihatin Andri?” tanyanya yang mulai diselimuti oleh rasa cemburu.
“nggak kok.. nggak gitu maksud aku..” jawabku dengan terbata-bata.
“apa sih? Kamu aja jawabnya kaya gitu! kamu kamu kapan sih bisa move on dari dia? Kita udah hampir setengah tahun sama-sama, tapi kamu belum juga bisa move on dari dia. Apa sih yang buat kamu jadi kaya gini?! Haah?!!” ledakan emosi yang tersirat dari bibir Rio.
Kini Rio semakin cemburu, sangat terlihat dia sudah lelah dengan tingkah yang seperti ini. Aku sadar, bisa dibilang aku ini egois. Tak pernah mempedulikan bagaimana perasaan Rio saat itu. Namun, ku pikir lagi aku bukannya egois. Namun, aku sendiri tak mengerti dengan apa yang sedang ku rasakan saat ini. Rio pergi meninggalkan aku dari aula setelah ia memarahiku tadi. Kini aku termenung. Entah apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku sudah berulangkali mencoba untuk melupakan Andri, namun bayang-bayang Andri terus menghantuiku.
Termenung dan terus terdiam ketika semua orang bersorak sorai melihat acara itu. Saat ini aku masih berpikir. Apa yang harus aku lakukan jika telah seperti ini. Mungkin hal ini belum seberapa dibandingkan dengan kelak jika Rio benar-benar lelah dan pergi meninggalkan aku. Banyak masukan yang ku dapat dari teman-temanku.
“udah taa.. kalau emang kamu gak bisa move on dari Andri, kalian pisah aja, dari pada terus-terusan nyakitin Rio yang jelas-jelas sayang dan selalu ada buat kamu..” ujar Yasmin ketika melihat aku sedang termenung.
“asal ngomong aja kamu yas.. jangan taa, coba kamu bayangin kalau kamu mutusin Rio. Dia pasti kecewa banget sama kamu, dia bakal sakit hati banget. Sejauh ini kamu emang udah nyakitin dia, tapi dengan cara mutusin apa ngga lebih nyakitin lagi? kalau emang kamu sayang sama Rio kamu bisa kok lupai Andri. Aku yakin, saat ini memang susah, karena kan kalian masih sering ketemu, lagian juga kamu sendiri yang bilang kan kalau kamu butuh waktu 2 tahun untuk bisa move on dari seseorang. Semuanya butuh proses, kamu bisa lewatin ini kok taa.. semangat yaa!!” ucap Michael yang tidak setuju dengan masukan Yasmin kepadaku.
Setelahnya, aku terus termenung dan berpikir. Mempertimbangkan keputusan mana yang harus aku ambil. Yang diucapkan oleh Yasmin memang benar. Jika dipertahankan belum tentu aku bisa sepenunya move on dari Andri, tapi dengan cara memutuskan hubungan itu adalah keputusan yang konyol dan sangat kekaknak-kanakan. Sementara sangat benar dengan apa yang diucapkan Michael. Selama ini aku sudah sering menyakiti hatinya. Aku harus menjadi manusia yang adil. Mungkin dengan terus bersamanya itu membuat aku merasa membohongi hati kecilku sendiri. Namun, di sisi lain, aku dapat membahagiakan Rio, orang yang menyayangiku dan selalu ada untukku.
Kini aku memutuskan untuk bertahan demi orang yang menyayangiku. Tak peduli membohongi hati kecilku sendiri pun. Karena aku yakin. Dengan terus bersamanya, aku akan bisa melupakan Andri, yang aku sendiri tak tahu bagaimana perasaannya terhadap aku. Meski itu menghabiskan waktu yang cukup lama, aku yakin bahwa aku bisa melupakan Andri dan berbahagia dengan Rio.
“oke.. makasih teman-teman atas masukannya. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ambil masukan dari kamu chael, terima kasih yaa.. dan ku mohon, bantu aku agar aku dapat melupakan Andri, dan menjadikan semua yang telah aku lakukan bersamanya selama ini hanya sekedar kenangan biasa. Mulai sekarang aku akan berusaha belajar untuk menyayangi Rio dan menghargai apa yang telah Rio berikan kepadaku.” Dengan yakin ku berucap.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/move.html

Sunrise on Sunday

Sunrise on Sunday




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 28 April 2013

Setiap minggu aku selalu duduk di sebuah saung yang terletak di tepi pantai. Aku selalu berangkat jam lima dari rumah hanya untuk melihat matahari terbit. Selain melihat matahari terbit, aku juga ingin melihat matahari terbitku yang kedua. Yaitu seorang cowok tampan yang selalu lari pagi di tepi pantai. Diam-diam aku sering mengamati cowok misterius itu. Aku suka melihat wajahnya yang terkena biasan matahari pagi.
Dia kembali datang. Lari pagi dengan santai di tepi pantai. Wajahnya benar-benar indah ketika matahari terbit menyinarinya dari belakang. Dia tidak pernah berlari sampai depan saung. Dia selalu kembali berlari ke timur dan menghilang. Begitulah ritual paginya. Aku suka melihat matahari terbit sedangkan cowok misterius itu hobi berlari di tepi pantai.
Keesokan harinya di sekolah. Aku selalu menceritakannya pada Alfa. Alfa adalah sahabatku sejak kecil. Ke mana-mana kami selalu bersama, hingga kami mendapat sebutan “si kembar tapi beda”. Biasanya pada hari senin, aku selalu mendapat sekuntum bunga matahari di mejaku. Dan aku tahu bunga itu merupakan pemberian Alfa. “kamu suka sama berapa cowok sih?” ucap Alfa. Aku sedikit meringis mendengar ucapannya.
Alfa tahu kalau aku sedang menyukai Fado sekarang. Cowok tampan pemain basket terkenal di sekolahku. Sejak kelas satu SMA aku menyukai cowok keren itu. “aku nggak bilang kalo aku suka sama si matahari terbit itu, Al. Aku cuma bilang kalo aku penasaran sama dia.” Jelasku pada Alfa. Kami duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen di halaman sekolah. “lagian kamu cuma janji ter…” kata-kataku mengambang begitu kulihat wajah Alfa yang terkena biasan matahari dari belakangnya. Bentuk wajah itu…
“janji apa?” tanya Alfa menyadarkanku. Aku sedikit salah tingkah. Aku mulai curiga pada Alfa dan tidak konsen dengan apa yang aku bicarakan. Jangan-jangan cowok yang di pantai itu Alfa?. Batinku. “janji apa, ndah?” Alfa mengulangi pertanyaannya. Namun, aku sudah terlanjur larut dalam pikiranku. Akhirnya aku mencoba menghindari Alfa. “Al, aku ke kelas dulu ya.” Ucapku lalu pergi meninggalkan Alfa.
Minggu selanjutnya aku kembali pergi ke saung pagi-pagi buta. Hubunganku dengan Alfa semakin kacau. Aku mulai sering memikirkan cowok itu. Aku sangat mempercayai Alfa sebagai sahabat dan aku tidak ingin Alfa menyukaiku, atau ingin menganggapku lebih. Itulah yang aku pikirkan sekarang. Aku terlalu takut jika Alfa menyukaiku.
Matahari mulai terlihat malu-malu muncul dari ufuk timur. Dan cowok itu kembali datang. Dia berlari ke arah barat dan tak lama kemudian dia membalikkan tubuhnya lalu putar arah kembali ke timur. Cowok itu tidak kembali lagi setelah berlari ke timur. Hal itu semakin membuatku yakin bahwa dia adalah Alfa. Karena satu-satunya cowok yang tahu kalau aku sering datang ke sini adalah Alfa.
Aku semakin penasaran. Kali ini kucoba memberanikan diri untuk mengikuti cowok itu. Cowok itu terus berlari dan aku mengikutinya diam-diam bagaikan penguntit. Ketika tiba di garis pantai yang berkelok dan dibatasi tebing pegunungan, aku semakin mempercepat lariku agar tak kehilangan jejak. Aku berhasil mengikutinya. Dia terus berlari menjauhi pantai dan memasuki hutan kecil di sana. Aku sedikit khawatir. Walaupun jarakku dengan cowok misterius itu terbentang jauh. Tapi kekhawatiranku tak dapat kututupi.
Hutan kecil itu tembus pada jalan raya. Aku mulai tenang dan terus mengikutinya. Tiba-tiba dia memasuki sebuah rumah yang mempunyai gerbang besar dengan pagar cokelat emas. Lama aku hanya menatap rumah itu. Sepertinya aku mengenali rumah itu. Aku menatap jalan raya yang aku pijaki. Aku sadar jalan raya ini adalah jalan menuju ke rumah Alfa. Dan rumah berpagar cokelat emas itu adalah rumah Alfa. Dugaanku benar. Cowok misterius itu adalah Alfa. Dan jangan-jangan Alfa tahu kalau aku mengikutinya sejak tadi?
Alfa memang cowok manis dengan kulit lumayan putih, wajahnya bersih. Namun, aku tidak mungkin menyukai sahabatku sendiri. Apalagi dia adalah sahabat kecilku.
Semenjak kejadian itu hubunganku dengan Alfa semakin renggang. Aku selalu menjahuinya tanpa alasan. Sedangkan Alfa selalu mengejarku dengan beribu pertanyaan yang sama. “Indah!” panggilnya dengan langkah-langkah cepat. Namun aku tak menghiraukannya. Aku terus melangkah ke kantin.
“kamu kenapa sih kok jadi aneh gini?” tanya Alfa. “aneh gimana?” balasku dengan nada ketus. “kamu ngejauhin aku. Ada apa? Aku salah?” tanyanya. Aku mencoba menatap Alfa tajam. “cowok di pantai itu kamu kan?” ucapku sedikit membentak. Mata Alfa membulat lebar. “cowok pantai?” katanya sedikit mengangkat sebeah alisnya. “aku nggak pernah ke pantai minggu pagi. Aku selalu tidur. Kenapa kamu bisa ngira kalo cowok itu aku?” “aku sudah mengikutinya kemaren. Dan cowok itu masuk ke rumahmu!” jelasku penuh emosi dan meninggalkan Alfa. “tapi dia bukan aku, Ndah!” teriaknya dan aku tak mengubrisnya.
Minggu pagi, aku kembali mendatangi saung untuk melihat sang mentari terbit. Tiba-tiba HP-ku bergetar. ada satu pesan masuk. Dari Alfa. Kubuka pesan itu dan kubaca.
“cowok matahari terbitmu itu bukan aku, Indah. Dia itu saudara sepupuku sendiri. Dan kamu tahu orangnya, tapi dia bukan aku. Sorry, selama ini aku merahasiakannya darimu. Tapi aku sekarang sudah jujur. Jadi aku pikir kita bisa baikan lagi.”
Sengaja aku tak membalas pesan dari Alfa. Karena aku yakin itu pasti cuma alasan cowok itu. Yang kutahu, Alfa tidak pernah mempunyai saudara sepupu. Aku sering ke rumahnya. Tapi tak seorangpun yang pernah muncul di sana. Hanya Alfa. Dia sahabat kecilku. Dan aku pasti akan tahu kalau dia punya saudara sepupu.
Perlahan matahari mulai menampakkan dirinya. Menyinari laut biru dan menyelimuti laut itu dengan warna merah keemasan. Aku menyukai warna itu. Lalu bersamaan dengan terbitnya matahari, seorang cowok kembali datang dan berlari-lari kecil mengikuti garis pantai. seketika emosiku kembali buncah, aku beranjak dari saung dan menghampiri cowok itu dengan langkah-langkah cepat.
Begitu tiba di dekatnya aku beridiri berkacak pinggang. “Alfa!” teriakku dengan suara lantang. Seketika cowok itu berhenti dan menoleh padaku. Wajahnya terlihat gelap karena biasan matahari. Dia menghampiriku. Aku juga menghampirinya. Dan begitu tiba tepat di hadapan cowok itu. Aku terperangah dan kaget. Cowok matahari terbit itu bukanlah Alfa. Melainkan Fado. Cowok yang selama ini aku suka.
“hai!” sapanya santai. Aku mencoba tersenyum dan sedikit salah tingkah. “emm… maaf, aku pikir kamu Alfa.” “aku tahu, kamu ngejauhin Alfa cuma gara-gara aku kan?” aku hanya diam. “aku sepupunya Alfa. Sebenarnya dari dulu aku sering melihat kamu di saung. Aku sering ngasi bunga matahari melalui Alfa. Tapi aku minta Alfa agar merahasiakannya. Maaf ya.” Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.
Aku masih terperangah mendengar penjelasannya. Dan kenapa Alfa tidak pernah bilang kalau Fado adalah saudara sepupunya. Dasar Alfa, dia memang sahabat yang baik. Maafkan aku ya, Al. Batinku. Ternyata matahari terbitku yang misterius adalah orang yang selama ini ku suka.
Cerpen Karangan: Ulfa Nurul Hidayah

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/sunrise-on-sunday.html

Jalan Untuk Kembali

Jalan Untuk Kembali




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 31 October 2015

Bintang-bintang di galaksi kian redup. Sang venus mulai terlihat jelas. Jauh di ufuk timur sana. Tapi, siapa yang tahu luka ini. Seredup bintang itukah kalutnya perasaanku. Semerah Venus-kah goresan lukaku. Sejauh itukah jarak di antara kita? Tapi, bisakah kau ajariku. Melebur dalam gelap. Tanpa harus lenyap. Seperti kepergianmu. Yang lebur dalam gelapnya emosi. Tapi tak lenyap dari ilusi.
Kembali ku termenung di atas kasarnya batu karang di bawah merahnya goresan awan senja di ujung sana. Ku rasakan hempasan semilir angin pantai yang cukup sejuk. Lagi-lagi otakku bermain-main dengan drama khayalan yang aku buat. Hampir setiap waktu drama-drama itu terputar otomatis pada cakrawala ingatanku. Hati ini beku. Entah apa dan siapa yang bisa menghangatkan hati dan perasaanku saat ini. Tanpa sadar suara binatang malam telah melakukan canon untuk menyambut tergelincirnya matahari. Aku berjalan gontai menjauh dari tepi pantai. Sesekai kaki kecilku ini menendangi batu-batu kecil di dekatku.
“Hey! Minggir!” aku mendengar suara orang berteriak ke arahku. Hei, sepeda itu kenapa melaju cepat sekali. Ahh, tidakk! Tiba-tiba saja, “BRUKKK…” aku rasakan perih yang menjalar di sekitar lututku. Berasa dingin seperti ada sesuatu yang mengalir. Darah. Ternyata lumayan keras juga sepeda itu menghantam kakiku.
“Aduh, gimana ini. Ikut aku ke pos yuk, biar aku obatin,” ajaknya dengan ramah. Namun terihat segaris wajah cemas dan panik di sana. Dia memapahku menuju pos di ujung pantai. Kakiku yang yang berdarah tadi sekarang berubah menjadi putih, dibalut oleh perban yang luar biasa tebal. Maklum, pria itu sendiri yang membalut lukaku ini. Jadi hanya asal potong.
“Aduh, maaf ya. Gara-gara rem sepedaku blong kaki kamu jadi kayak gini deh. Aku tadi hilang kendali,” ucap pria itu sembari membersihkan luka di lututku.
“Iya, nggak apa-apa kok. Aku juga tadi jalan sambil ngelamun. Tiba-tiba aja ‘brukk’ kakiku terasa sakit,” tuturku sambil tertawa geli mengingat kejadian tadi.
“Hahaha. Emm, oh iya. Kenalin aku Rafa. Aku di sini ngekos aja. Bukan penduduk asli. Nama kamu siapa?” akhirnya aku tahu juga siapa nama laki-laki itu.
Rafa. Orang itu mirip sekali dengan orang yang sering bermain di drama miniku. Sosok orang yang sempat hadir di masa lalu, Bima. Sekilas wajah Rafa dan Bima memang mirip. Eh, tapi? Mirip banget malah. Apa mungkin mereka berdua saudara kembar? Mana mungkin. Dulu Bima tidak pernah bilang kalau dia punya saudara kembar.
“Aku Raunny, aku di sini juga ngekos. Kos-kosanku juga nggak jauh dari sini. Makanya hampir tiap sore aku dateng ke pantai,” aku menjelaskan secara singkat kebiasaan harianku.
Di beranda pos ini aku mengobrol lumayan lama dengan Rafa. Suara adzan Maghrib dari masjid di seberang jalan sana sayup-sayup mulai terdengar. Aku memutuskan untuk kembali ke kos-kosanku. Tapi Rafa bersikeras mengantarku pulang, padahal aku sudah menolaknya. Kini hampir tiap senja aku mengunjungi pantai bersama Rafa. Orang itu sungguh mengantarkanku pada ingatan silam bersama orang terindah di masa lalu. Bibirku kembali smiled down ketika aku mengingat Bima. Seseorang yang pergi meninggalkanku tanpa alasan. Dan sekarang dia seperti hilang ditelan bumi. Aku tak tahu bagaimana kabar dia sekarang.
Sikap Rafa lembut, sama seperti sikap Bima dahulu. Canda tawanya, senyumannya, tingkah lakunya. Bahkan, wajahnya pun mirip. Sumpah, semua itu sama persis dengan apa yang ada pada Bima. Ya Allah, kenapa engkau hadirkan seeorang yang mirip dengan Bima. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya sedangkan orang yang ada di dekatku saat ini sangat mirip dengan dia.
“Raunny, kamu kenapa? Kok kayaknya kamu sedih gitu sih?” aku lihat wajah heran Rafa yang terukir jelas di raut mukanya.
“Nggak, apa-apa kok Rafa. Cuma lagi inget seseorang aja,” Aku kembali tersenyum saat hati ini berkoar ingin menangis. Sungguh, aku tidak sanggup.
“Ceritain aja ke aku, maybe aku bisa bantuin kamu,”
Mungkin aku bisa berbagi cerita sama Rafa. Siapa tahu dia bisa kasih aku solusi dari kalutnya hatiku saat ini.
“Kamu ngingetin aku sama seseorang. Dulu orang itu sempat jadi yang terindah di kehidupanku. Sudah hampir lima tahun orang itu lenyap dari kehidupanku. Entah bagaimana kabarnya. Dia seperti hilang ditelan bumi,” aku mencoba menuturkan apa yang sesungguhnya sedang terjadi padaku. Bibir ini bergetar saat aku terang-terangan menyebut kenangan masa laluku bersama Bima. Aku menangis. Air mata ini mengalir mengikuti relief pipiku.
“Kamu masih sayang sama orang itu ya?” Rafa malah balik bertanya.
“Iya, Raf. Aku masih sayang banget sama dia. Dulu, orang itu pergi tanpa alasan. Ngilang gitu aja, pergi ninggalin aku seolah-olah dia tidak bersalah. Aku sendiri bingung, dia udah nyakitin aku gitu, tapi hati ini tetap berontak buat terus nungguin dia, terus sayang sama dia. Padahal aku sendiri tahu, rasa sayangku ke dia ini mungkin cuma tersimpan secara sia-sia aja. Dimana dia, masih sayangkah dia. Aku tak tahu, yang aku tahu saat ini, aku ingin melupakannya, aku ingin jadi amnesia” aku semakin menangis sejadi-jadinya.
Ini kali pertama aku menceritakan pedihnya perasaanku terhadap orang lain. Sosok Rafa membuatku percaya, bahwa ia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat hati ini tenang. Dan memang, aku serasa lebih lega setelah bercerita panjang lebar ke dia.
“Husst, jangan bilang gitu. Bersyukurlah kamu masih diberi ingatan yang sempurna oleh-Nya. Di luar sana banyak orang yang ingin sembuh dari amnesia, mereka ingin bisa mengingat masa lalunya kembali. Biar pun masa lalu itu terkadang menyakitkan, tapi semua itu bisa jadi pelajaran berharga dikemudian hari. Aku sendiri juga gitu, aku ingin sembuh dari amnesiaku ini,”
Hah? Ternyata Rafa terkena amnesia? Ya Allah. Ternyata di balik keceriaannya saat ini, dia sedang mencoba mengingat kembali masa lalunya? Sungguh bodoh aku ini, seharusnya aku bersyukur memang, telah diberi ingatan yang sempurna oleh-Nya.
“Kamu amnesia Raf? Sejak kapan?” Aku bertanya keheranan, masih dengan mata yang terus mengeluarkan air mata. Pipiku semakin basah. Air mata ini malah semakin deras mengalir.
“Kata Mama Papaku, lima tahun silam aku dan mereka ke bandara, hari itu katanya aku mau berangkat ke Bandung, ngelanjutin Senior di sini untuk pertama kalinya. Tapi, tiba-tiba aja mobil yang Ayahku kendaliin remnya blong. Mobil itu menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan. Orangtuaku nggak kenapa-kenapa, tapi kepalaku membentur kaca mobil terlalu keras jadi aku amnesia gini. Aku hanya ingat orangtuaku aja. Masa laluku yang lain pun aku tak mengingatnya, tapi… Auww… kepalaku sakit, pusing,”
Rafa menjelaskan kronologis kejadian kecelakaannya lima tahun silam, meskipun yang ia ceritakan bukan sepenuhnya yang ia ketahui. Tapi, lima tahun silam adalah waktu dimana Bima pergi ninggalin aku, apakah mungkin, orang yang amnesia di hadapanku ini Bima Errafael Saputra?
“Rafa? Kamu kenapa? Kita balik yuk? Aku anterin ke rumah sakit,” aku cukup panik melihat Rafa mengerang kesakitan seperti itu. Seperti ada sesuatu di bagian kepalanya. Dari tadi ia memegangi kepalanya itu.
“Aku… Ng…nggak kenapa–kenapa kok. Dan, aku… Aku mulai mengingatnya. Yaa, A… Aku ingat! Namaku Bima Errafael Saputra, Dan, kamu? Aku seperti mengenalmu di masa lalu,” Rafa masih terus memegangi kepalanya. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Rasanya pasti sangat sakit. Rafa masih terus saja bergumam, mungkin otaknya sedang bermain dengan drama mini seperti apa yang sering bermain di ingatanku.
“Rafa, kamu nggak apa-apa kan? Aduhh, udah. Jangan dipaksain inget gitu. Kasihan kamunya,” aku semakin nggak tega melihat Rafa kayak gitu. Apa yang ia ucapin dari tadi aku tak mendengarnya. Aku terlalu cemas melihat keadaannya yang seperti ini.
“Raunny, aku inget semuanya. Kamu Raunny Angelia kan? Pacarnya Bima waktu masih junior? Kamu orang yang pernah disukain sama Aji kan pas kamu masih jadian sama Bima? Aku inget sama kamu. Iya, kamu pasti Raunny. Nggak mungkin salah. Dari awal aku nabrak kamu itu, wajah kamu kayak nggak asing lagi. Ini aku Bima, nama panggilan asliku. Bukan Rafa,”
Degg. Jantung ini serasa berhenti berdetak. Mataku semakin panas menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Aishh! Dia? Bima? Apakah mungkin? Kalau bukan, kenapa dia bisa tahu detail masa laluku? Kalau iya, begitu bodohnya aku, dulu aku tidak tahu kalau Bima sempat mengalami kecelakaan.
“Kamu beneran Bima? Kamu nggak lagi ngarang cerita kan? Aku emang udah nyadarin, semua tentang kamu memang mirip kayak Bima. Tapi, apa mungkin? Bagaimana mungkin kita dipertemukan kembali di sebuah kota yang jauh dari kota asal kita?” aku masih tak percaya. Air mata ini tak lagi tertahankan. Dan akhirnya air mata ini pecah membanjiri pipiku.
“Iya, aku benar-benar sudah ingat masa laluku. Aku ini beneran Bima. Aku masih inget banget semua tentang kita. Aku memilih ngelanjutin kuliah di sini karena aku ngerasa ada sebuah tempat yang berkesan. Hari ini, aku mulai ingat kembali kenangan di tempat itu. Aku mulai inget, waktu tour ke Bandung kita duduk bareng di samping fosil Dinosaurus. Aku mulai inget waktu kita makan bareng di bawah pohon deket Museum Geologi, iyaa aku pasti tidak salah mengingat kejadian itu. Semua itu bener kan?”
Ya, dia memang benar-benar Bima. Dia ingat kenangan tak terlupakan di Museum Geologi. Ya Allah, aku nggak nyangka detik ini aku masih bisa dipertemukan kembali dengannya.
“Bima, kamu dulu jahat banget sih? Kenapa kamu ninggalin aku tanpa alesan gitu?”
“Aku dulu emosi banget Raunny. Aku cemburu sama Aji. Dia sering banget deket-deket kamu, bahkan sampe nembak kamu segala, akhirnya di ujung kelulusan aku milih pergi ke Bandung ini buat ngelanjutin SMA. Bukan maksudku buat ngelupain kamu. Tapi, aku malah amnesia, jadi nggak inget apa-apa lagi tentang masa lalu kita,” penjelasan ini yang dari dulu aku tunggu, dan akhirnya setelah lima tahun aku menanti sebuah jawaban, penantian itu telah terjawab.
“Bima… maaf ya, aku terlalu buta. Aku nggak lihat perasaan orang lain. Aku sayang kamu. Aku juga nggak mau lihat Aji sedih gitu,”
“Iya, Raunny. Aku juga minta maaf ya, udah ninggalin kamu tanpa alasan gitu. Aku masih sayang kamu,”
Hari-hariku berubah, setelah ada Bima, yang hadir kembali di hidupku. Bintang itu kembali terang. Kisah masa lalu yang belum sempat terjawab, dan belum terselesaikan. Akhirnya mulai hari ini kembali berlanjut. Bima, orang yang kemarin hanya bermain di drama miniku. Kini dia hadir kembali di kehidupan nyataku. Terima kasih Yaa Allah. Sungguh, jalan-Mu tiada seorang pun yang tahu. Sesuatu yang indah itu akan terwujud pada waktunya. Aku tahu, rencana-Mu lebih indah dari apa yang aku rencanakan.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/jalan-untuk-kembali.html